Tidak terasa sudah 9 bulan kita tak saling bertatap muka. Terakhir aku pulang karena saat itu sakit yg kuderita. Pun kebersamaan kita tak begitu kunikmati karena hanya bisa terbaring dikamar lalu kau sesekali datang menegur, membelai rambutku, menyiapkanku makan, menyiapkanku air hangat, lalu kau sibuk lagi dengan acara pernikahan kakak yang tinggal menghitung hari.
Sedih rasanya kala itu, mengutuk diri sendiri kenapa harus terlalu menyibukkan diri dengan aktivitas kampus, lalu pulang dengan oleh-oleh sakit. Padahal mereka pulang hanya sekali saja tiap tahun, bahkan jarang.
Mama, Patta sesak rasanya menahan rindu yang tak berkesudahan,
Aku tahu kau selalu mengumpat jika dalam seminggu tak berkabar,
Maafkan anakmu ma, tta, bukannya tak ingin bertegur sapa. Iya Aku juga rindu, tapi kegengsian akan tangisku yang mungkin saja bisa pecah lebih tinggi.
Ma, anakmu sedang terluka
Patta, air di pelupuk mata meleleh lagi
kutulis saja disini, biar tak menambah kekhawatiranmu di perantauan sana.
Baik-baik, ya!
No comments:
Post a Comment